Toleransi beragama

Toleransi beragama, bagaimana seharusnya?

Toleransi Beragama

Toleransi beragama, bagaimana seharusnya?

Toleransi.
Sebenarnya apa arti dari toleransi?
Dikutip dari Wikipedia, “Toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. Istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, di mana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda.”

Dari definisi diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa toleransi dalam hal agama, seharusnya dilihat dari kacamata pemahaman tentang toleransi dalam agama itu sendiri, bukan secara umum.
Bagaimana dengan toleransi dalam kacamata Islam?
Sebenarnya sederhana saja, pedoman toleransi yang benar dalam Islam dapat kita lihat dari Al-Qur’an Surah Al-Kafirun ayat 6, :
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Dari surah Al-Kafirun ayat 6 diatas, dapat kita simpulkan bahwa ber-toleransi yang benar dalam Islam, yaitu dengan meninggalkan urusan agama lain dan tidak meninggalkan Islam.
Nah kemudian, bagaimana agar kita ber-toleransi, namun juga tetap menjaga Aqidah, yang mana Aqidah adalah jati diri sebagai seorang Muslim?
Terdapat sebuah hadits yang menjelaskan tentang perihal ini, :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Bagaimana kita sebagai seorang muslim harus bersikap, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa tentang “Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Islam”. Selengkapnya dapat didownload disini : http://s.id/FatwaMUINo56Thn2016

Sebagaimana kita mempercayakan kehalalan produk-produk yang beredar di masyarakat yang disertifikasi oleh LPPOM MUI, maka patutkah jika kita masih mempertanyakan kebenaran dari Fatwa MUI tersebut?
Kami yakin bahwa MUI adalah para ulama yang lebih memahami agama, dan tidak mengedepankan hawa nafsunya untuk berpikir, dan semata-mata menjadikan aturan Allah dalam mengambil keputusan.
Tanpa Fatwa ini pun sebenarnya sudah dijelaskan dengan lantang dan jelas dalam ayat dan hadits di atas tentang toleransi beragama yang benar dalam Islam.
Maka pantaskah jika kita sebagai seorang Muslim yang ingin ber-Islam secara sempurna, tidak mengindahkannya?
Semoga Allah membukakan hati kita dan memberikan kita kejernihan dalam berpikir.

Toleransi kita sederhana, “Lakum Diinukum Wa Liya Diin”.



Leave a Reply

3 × 2 =