Pesantren UGM
Keluarga Muslim Fakultas MIPA – Media Informasi Islam | Artikel Islami dan Sains
Keluarga Muslim Fakultas MIPA – Media Informasi Islam | Artikel Islami dan Sains
Jan 24th

Bismillah.
Disaat kondisi manusia kebanyakan resah, galau, sibuk semaunya sendiri, ada seseorang yang kelihatan begitu tenang didalam masjid, melantunkan sebuah kalimat-kalimat merdu menggugah jiwa. Sungguh dengan mendengarkannya pun, orang-orang di sekitar masjid terpesona. Yap, lantunan indah itu dari Al Quran.
“Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’d: 28)
Dalam dzikrullah, mengingat Allah, satu jalannya adalah membaca dan memahami kandungan Al Quran. Tentunya kita sebagai umat islam tahu akan keistimewaan Quran bukan?
Betapa indah dan dalamnya makna dari kitab yang berisikan firman dari Illahi yang Mencipta Semesta. Sungguh merugi yang mengaku islam tapi jarang menyentuhnya, hanya menjadikannya hiasan di rak-rak rumah. Apalah artinya memiliki Al Quran yang indah jika hanya diperlakukan seperti itu? Naudubillah min dzalik. Padahal banyak sekali manfaat dari membaca Quran dari hati. Ga cuma asal baca aja lho ya. Mulai dari memperoleh ketenangan hidup, cahaya petunjuk, dan tentunya balasan yang sudah dijanjikan langsung olehNya.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Dan bahkan, iri terhadap mereka yang telah mengamalkan Al-Qur’an, dibolehkan. Dari Ibnu Umar radiallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasannya beliau bersabda,
“Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Allah Al-Qur’an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Allah harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu terdapat permisalan yang baik bagi yang membaca Al-Qur’an, karena Rasululloh pernah bersabda, “Permisalan seorang muslim yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ad wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari Muslim)
Subhanallah, menarik bukan? ^_^
Dan ada beberapa hal yang menyebabkan orang itu bersemangat dalam membaca dan memahami Quran. Diantaranya adalah membacanya dengan cara yang baik dan benar. Masih ingat rukun2 membaca Quran kan? Hayo diingat lagi.
Jangan sampai kita membenarkan alasan karena kita orang Indonesia, trus baca sebisanya aja. Hey dude, come on! Ketahuan banget orang tadi malesan. Kalau kita masih TK gitu sih ya dimaklumi kalau belepotan, nah kalau udah bangkotan kaya sekarang ini? Think again!
Insya Allah selalu ada jalan, bagi mereka yang serius untuk mencari jalan. Tahsin masih terbuka bagi siapa saja, yang ingin baik dan benar bacaannya. Memang kalau sudah tua terutama diatas 30an, akan banyak tantangan. Namun ingat juga, apasih yang bisa menghalangi Allah Subhanahu wa ta’ala jika kita berusaha dan berdoa sungguh-sungguh?
Dan niatkan tahsin demi Allah, lillahi ta’ala.
Bukan untuk pamer-pamer kalau bacaannya oke punya, juga bukan untuk nemenin disaat ada hajat dikamar mandi (wah yang ini ngawur banget), apalagi cuma buat ngelamar anak orang. Hedeeeh.
So niatkan yang benar, dengan tujuan yang benar, dengan cara yang benar. Tahsin lillahi ta’ala demi Allah, dan tujuan-tujuan syar’i lainnya.
Wallahu a’lam
21 Januari 2012,
Di depan kompi dakwah, Mini studio
Sleman, Yogyakarta
Abdul Rokhman As-Syukur
Referensi: http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/luangkan-waktumu-untuk-membaca-al-quran.html
Nov 9th
Satu ciri menonjol yang sulit dibantah dalam kehidupan modern, adalah besarnya daya tarik harta dalam kehidupan. Lebih dari separo energi-energi kehidupan dihabiskan untuk memperoleh harta. Perhatikan saja orang-orang di kota atau di desa mengalokasikan waktunya. Bukankah lebih dari sebagian diperuntukkan untuk menggapai harta? Di kota- kota besar seperti Jakarta, bahkan tidak sedikit nyawa melayang hanya untuk memperebutkan harta. Sebagian malah kehilangan nyawa, hanya untuk mengisi sebagian perut. Ketika pergi ke kota Palembang beberapa waktu lalu, saya sangat terkejut dengan sejumlah orang yang berpakaian sangat rapi, namun memaksa untuk diberikan uang. Kalau saja ada statistik yang bisa menjelaskan ke mana pendapatan orang dialokasikan, tentu pengumpulan harta akan menduduki salah satu porsi yang menentukan. Di kota-kota besar, dan di banyak negara yang maju perekonomiannya malah terjadi, harta menjadi satu-satunya mesin pendorong kemajuan. Sulit membayangkan adanya pertumbuhan ekonomi yang pesat tanpa didorong oleh nafsu untuk memperoleh harta.
Sebagai konsekuensinya, jadilah kehidupan modem sebuah kehidupan yang diwarnai secara sangat dominan oleh energi mencari harta. Mungkin sangat aneh kedengarannya, kalau saya merekomendasikan Anda untuk berhenti mencari harta. Lebih aneh lagi, karena saran demikian datang dari saya yang sehari-hari hidup dalam lingkungan yang sangat kapitalis. Sekali lagi, saya tidak dalam posisi untuk mengerem apa lagi mengharamkan nafsu-nafsu mencari harta. Dengan seluruh kekurangannya, harta telah berhasil mendorong banyak kemajuan.
Sayangnya, di tengah-tengah keinginan manusia yang sangat kuat untuk memiliki harta ini, ada banyak orang yang lupa, bahwa harta tidak hanya hadir dalam bentuk kekayaan-kekayaan material di luar diri. Ia juga hadir dalam jumlah yang sangat melimpah di dalam diri kita masing-masing.
Meminjam karya cantik seniman besar India yang bernama Kabir: Janganlah pergi ke taman bunga! Hai sahabat! Dalam tubuhmu ada taman bunga. Duduklab di atas ribuan daun lotus, dan pandanglah keindahan tak terbatas. Entah Anda percaya atau tidak, saya meyakini kalau taman bunga (baca: harta) di dalam diri kita ada. Ia memiliki daya puas yang jauh lebih lama dan lebih besar dari harta yang datang dari luar.
Perhatikan oksigen yang kita hirup gratis setiap hari. Bukankah ia berharga sangat mahal bagi mereka yang membeli oksigen di rumah sakit? Cermati kesehatan Anda hari ini, bukankah ia sangat nikmat bila dibandingkan orang yang menangis kesakitan di unit gawat darurat? Coba lihat rumah Anda lengkap dengan anak dan isteri/suami yang menunggu setiap hari. Bukankah ia rezeki yang sangat patut disyukuri dibandingkan mereka yang tidak punya rumah dan belum memiliki anak?
Dengan sedikit rasa syukur, badan dan jiwa ini sebenarnya memiliki harta yang demikian melimpah. Ia lebih murah dan mudah untuk digapai. Dan yang lebih penting, ia bisa dimiliki manusia mana pun, dengan pendidikan setingkat apa pun, dan pengalaman sejumlah mana pun. Syaratnya cuman satu, kesediaan untuk menerima dan bersyukur kepada sang hidup dan kehidupan.
Lebih-lebih kalau semua harta di atas (baik yang bersumber dari dalam maupun dari luar) kita peroleh dengan cinta. Ia mematahkan anggapan yang berumur sangat lama: pertentangan antara performance (hasil di akhir) dengan enjoyment (kenikmatan dalam perjalanan).
Sebagaimana kita tahu bersama, telah lama diyakini banyak manusia, kalau orang mengutamakan hasil, maka luputlah rasa syukur di perjalanan. Demikian juga dengan mereka yang terlalu berkonsentrasi pada rasa syukur di perjalanan, hasil akhirnya kerap hanya biasa-biasa saja.
Melalui pendekatan ’meraih harta dengan cinta’, sebenarnya pertentangan semacam ini tidak perlu ada. Hasil yang maksimal bisa dicapai melalui rasa syukur yang mendalam di perjalanan. Demikian juga sebaliknya, rasa syukur yang terus menerus hadir, juga kontributif terhadap tingginya hasil akhir. Bukankah indah sekali hidup yang bisa menghadirkan keduanya pada saat yang sama?
Dalam bingkai pengertian seperti ini, ketika seorang saha- bat warga negara Amerika bertanya kepada saya apa itu kehidupan. Dengan tenang saya menjawabnya: life is love, the rest is just details! Hidup ini adalah cinta, sisanya hanyalah penjelasan rinci dari cinta.
Ini juga yang menyebabkan saya tidak bosan-bosannya menulis, berbicara dan menjadi konsultan cinta di mana- mana. Berbeda dengan laki-laki gombal yang mengobral cintanya melalui janji, saya melakukannya melalui tindakan- tindakan kecil tidak bernama, tidak diakhiri kata terima kasih, bahkan kerap tidak diakhiri senyum orang lain. Kadang malah dimaki orang lain, plus sebutan munafik.
Ibarat melakukan perjalanan, ketika ada orang yang bertanya mau ke mana saya, jawabannya sederhana: hanya mau berjalan titik! Entah setelah berjalan bertemu laut, sungai, pohon atau malah dimarahin orang lain, selalu diusahakan untuk tersenyum dalam rasa syukur. Ini konkret- nya cara saya meraih harta dengan cinta.
Ada memang orang lain yang meraihnya dengan cara yang berbeda. Ini pun saya syukuri, karena ada orang lain yang bertemu jalan lain, untuk kemudian ikut memperkaya inspirasi hidup ini.
www.abatasa.com
Penulis: Gede Prama, Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Oct 23rd
MODIS. Sepertinya kata yang satu ini sudah melekat dengan asik di telinga kita ya? mengikuti yang lagi ngetrend dan lagi di gandrungi. dan, ternyata itu tak hanya lekat dengan kehidupan orang-orang diluaran sana (mana?mana?mana?). Modis pun kini telah akrab di kehidupan para Muslim dan Muslimah. ada yang salah dengan modis? Ah, jangan terlalu cepat mengambil keputusan, kawan. mari kita bincang-bincang santai dulu, o
[part 1] Muslim modis nan syar’i
“Baju dan penampilan itu penting, apalagi di zaman sekarang” sebuah kalimat yang okaylah, ada setujunya ada ga stujunya. Meskipun ada yang lebih penting dari penampilan oke, yaitu akhlak yang terpuji, right? ^_^
Namun tentu saja, penampilan itu masih merupakan hal penting, terutama dalam hal berbusana. Kalau ga mau berbusana, udah deh, ke hutan Biologi aja! :p
Sebagai umat islam yang Insya Allah tetap berpegang teguh dijalanNya, berpenampilan kita boleh lah pake kacamata item, pakai baju parlente, sepatu bermerek, tapi juga harus mematuhi koridor2 islam yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam.
# Isbal
Oke buat para mas bro yang saya sayangi, tau Isbal? Isbal diambil dari kata “Asbala izaarahu”, yang artinya “menjuraikannya”. Jika dikatakan “asbala fulanun tsiyabahu” artinya orang tersebut memanjangkan dan menjuraikan pakaiannya sampai ke tanah”
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,
“Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 306).
Nah, dari hadist diatas sudah jelas kan friend? Kalau bahaya isbal itu seriiing sekali disepelekan dan digampangkan. Padahal sesungguhnya, masalah ini merupakan masalah yang serius jika kita berusaha untuk menjadi muslim yang juga mukmin. Kalau temen-temen pahami, isbal ini sering terkait pada isbal karena rasa sombong. Maka dari itu ada sebagian yang menganggap, “Menurut saya gpp asal ga ada rasa sombong”. Nah, kali ini saya akan menyajikan langsung pembahasan dari Ust Muhammad Abduh Tuasikal. Mengkaji lebih dalam, ke halaman dari Ust sendiri. Teman-teman bisa mengunjungi:
http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2903-hukum-celana-di-bawah-mata-kaki.html
Namun ada beberapa kondisi yang saya aware kok. Semakin jauh kita meninggikan celana, semakin jauh juga jarak kita terhadap “orang biasa”. Bahkan muslim “biasa” pun terkadang juga agak segan (atau enggan) terhadap para cingkrangers ini. Nah, apalagi dengan yang noni?? (noni=non islam). Terkadang juga melakukan sunnah akan membuat kita merasa dikucilkan, atau parahnya memang bener2 dikucilkan, tapi jangan ke geeran lah kalau kita dikucilkan. Emang siapa elu?? :p
Untuk mengatasi keadaan seperti tadi, dan tentunya agar kita mudah berbaur (namun jng sampai melebur) adalah dengan tetap melakukan Sunnah dari Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam semampu kita, dengan celana maksimal sampai batas mata kaki. Oke, MAKSIMAL sampai mata kaki. Sudah saya bold dan uppercase. He2. Mungkin begitulah sedikit trik dari kita menghadapi ke Heterogenan masyarakat ^_^
# Jeans
Well, ini sebenarnya pengamatan saya aja sih. Kok mayoritas makhluk yang sering di Masjid ga pake jeans. Emang dilarang yah? Apa Cuma selera?? Dan apa Cuma dipikiran saya aja??? Soo. Akhirnya cari-cari tau deh, semoga bermanfaat ^_^
Dan hal2 yang tidak ada dalilnya, kita kembali ke Al ‘Urf (melihat keadaan negri dan masyarakat masing2). Memakai jeans ditempat kita tidak bisa dihitung tasyabbuh (menyerupai) orang kafir disini. Sehingga kesimpulannya, boleh-boleh aja kok pakai jeans . Yang terpenting adalah kita tidak memakai pakaian jeans yang ketat. Okay?
*diambil hikmahnya dari sebuah kajian oleh Ust Aris Munandar, S.S.
http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-144-hukum-memakai-jeans.html
Modis boleh, keren boleh, jeans boleh, gamis boleh, asal kita tetep menjaga dan mengamalkan sunnah dan tetap syar’i, right??
“Lakukan yang wajib, giatkan yang sunnah”
[part 2] Muslimah Modis nan Syar’i
Kawan, sering kan kita denger kata muslimah? Kita bahkan mungkin sering memakainya, untuk merujuk ke orang lain bahkan diri kita sendiri. Dan kerennya, kalo kita nyebut muslimah, rasa-rasanya di seluruh penjuru dunia raya-raya ini sepakat kalo itu adalah sebutan buat wanita muslim(orang islam). Ya nggak? Iya lah pasti jawabannya
Kalo masalah makna sih, ya emang Insya Allah kita sudh satu frame yah? Tapi kadang-kadang pemaknaan secara aplikasinya nih yang beda-beda. Saya tertarik dengan salah satu teman dunia maya saya yang kebetulan adalah orang yang hoby photography. Akhir-akhir ini teman saya itu sedang gandrung ngefoto orang-orang yang ramai dijalan, di pasar, atau dimanalah. Dan objek fokusnya biasanya adalah seorang wanita berkerudung, muslimah. Lalu di setiap albumnya dia selalu menggunakan judul ‘Urban Hijab Project’. Kata salah seorang teman saya yang melihat foto2 itu, keren kan mereka bisa bertahan menjadi muslimah di tengah orang-orang yang mungkin sudah tak peduli lagi dengan agama.
Saya manggut-manggut, tapi setelah menelusuri jejak-jejak fotonya saya nggak jadi manggut-manggut. Muslimah ya? Ummm……sepertinya saya masih kurang sepakat dengan definisi Muslimah yang dimaksud teman saya itu.
Begini, ada dua tipe mulimah yang akan saya kategorikan di bahasan ini.
Kategori pertama, adalah muslimah dengan celana jeans ketatnya, baju yang sedikit membentuk atau lengan yang tidak menutup sempurna, lalu jilbab paris yang tipis dan menerawang memperlihatkan ikatan rambutnya, atau dengan jilbab yang dililit dileher(saya penasaran, apakah mereka tidak merasa tercekik? XD ), atau dengan kerudung yang sedang ngetrend sekarang dengan kerudung siap pakai sebagai alas pertama, ditambah selembar kain untuk hiasan/ lapis kedua dan mungkin sedikit terlihat seperti (maaf) aktivis gereja.
Kategori kedua, adalah muslimah dengan kaki terbungkus kaos kaki, kemana-mana pake rok lebar, lalu pake baju juga lebar dan masih ditambah manset ditangan. Dan dari kepala hingga bawah dada tertutuplah sempurna dengan jilbab yang tak kalah lebar.
Mungkin banyak orang yang akan sepakat bahwa kategori pertama adalah Muslimah gahol dan modis yang bisa menyelaraskan antara ajaran agamanya dan gaya hidup yang lagi ngetrend zaman sekarang. Sedangkan kategori kedua dipastikan termasuk muslimah yang nggak gaul dan tidak pernah membaca trend fashion terbaru. Atau mungkin parahnya, kategori kedua termasuk tukang boros karena memakai baju dengan kain terlalu lebar. Bukankah kita dilarang mubadzir?
Modis ya? Umm…mungkin saya lebih suka menyebutnya bunuh diri. Iya, bunuh diri asli deh. Mau tau kenapa saya bilang ini bunuh diri? Bahkan bunuh diri di dunia dan akhirat (nah lo….).
PARESTESIA
Kalo kita mau sedikit rajin ngebuka kamus kedokteran, Dortland misalnya, kita bakal ketemu arti kata Parestesia, yaitu: perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas seperti terbakar, dan sejenisnya. Gangguan saraf parestesia gampang dikenali. Gejalanya berupa kesemutan yang lama-kelamaan berubah menjadi mati rasa. Kesemutan terjadi lantaran terganggunya saraf tepi, saraf yang berada di luar jaringan otak di sekujur tubuh. Hal itu terjadi umumnya karena ada tekanan, infeksi, ataupun gangguan metabolisme. Gangguan saraf itu menyebar ke sekujur tubuh hingga ke permukaan kulit. Dalam jangka panjang, gangguan seperti itu bisa menyebabkan kelumpuhan, terutama di kalangan penderita kencing manis.
Nah, salah satu sebab Parestesia nih, karena kita memakai pakaian yang ketat. Celana ketat dan baju ketat, apalagi celana yang berbahan kulit dan jeans. Ya itu tadi, saraf tepi kita terganggu karena tekanan (baju ketat), yang nantinya membuat sistem saraf menurun fungsinya. Celana ketat juga mengakibatkan sirkulasi pembuluh darah di lipat paha yang mengalirkan darah ke kaki tertekan. Padahal di lipat paha itu ada arteri, pembuluh darah besar yang biasanya dipakai memasukkan kateter oleh ahli jantung.
Secara kesehatan aja tuh pakaian yang serba ketat sudah tidak baik. Allah emang paling Keren, mensyariatkan agar Muslimah mengenakan baju yang longgar dan tidak membentuk lekuk tubuhnya. Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.
Jadi masih pengen pake baju ketat? Yakin? Masih belum merasa kalo itu bunuh diri?
NANTANG PERANG
Kenapa saya bilang nantang perang? Kita tahu lah, orang yang nantangin perang itu biasanya berani, berani menerjang apa saja yang penting kelihatan eksis. Begitu juga dengan pakaian ketat yang melekat dan kerudung gaul yang diputer-puter dan dililit-lilitin kekepala, ingin tetap eksis. Padahal jelas itu banyak mengundang bahaya, preman-preman geje yang tertarik melihat lekuk tubuhnya dan berkata dalam hati “ini sasaran empuk, shalihah tapi seksi”. Masya Allah, semoga kita terhindar dari hal itu.
Kebayang nggak sih betapa ngerinya jika ada yang berpikiran kotor saat melihat kita. Apakah kita tidak bertanggungjawab? Tentu saja kita akan dimintai pertanggungjawaban karena sudah memancing orang lain berpikiran nakal! *jewer*
JILBAB
Islam sendiri telah mengatur bagaimana cara Muslimah berpakaian dan menutup aurat. Yah, tau sendiri lah, aurat wanita kan seabreg-abreg, hampir seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan aja yang bukan aurat(gimana lagi sih ya, wanita makhluk istimewa XD ).
Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59).
Arti kata jilbab ketika Al Quran diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang di pakai lapisan yang kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita, ini adalah beberapa arti jilbab seperti yang dikatakan Imam Alusiy dalam tafsirnya Ruuhul Ma`ani.
Sudah jelas sebenarnya kewajiban berjilbab buat Muslimah dan rambu-rambu berjilbab sesuai syariat tuh kayak apa. Naaaaaaaaaaaaaah, sayangnya nih, kadang-kadang mba-mba yang berjilbab sudah syar’I itu justru bikin Muslimah lain yang belum berjilbab syar’I males ngikutin. Kenapa pasal?
Pernah baca buku Asma Nadia yang judulnya “Jangan Jadi Muslimah Nyebelin”? Nah, ini salah satu sebabnya muslimah lain males mengikuti dan cenderung ingin tampil ngikutin trend yang malah jadi geje. Tidak jarang kita temukan Muslimah dengan jilbabnya yang lebar tapi bau badan merebak kemana-mana sampe yang lewat mau pingsan(berlebihan), atau pake baju yang tabrak lari seribu tiga. Nih ya, pake rok warna ungu bunga-bunga, baju warna biru trus jilbab warna coklat. Walaaaaaaah, bikin sakit mata. Atau mungkin bajunya sudah pas warnanya tapi ternyata kusut nggak disetrika dari atas sampe bawah. Hmmm……
Allah itu Indah, dan mencintai keindahan…..(HR. Bukhari-Muslim)
Allah tuh cinta keindahan, dan Allah juga Maha Melihat. Masa iya kita dilihat Allah dimana-mana nggak indah banget kayak gitu -_____________-“
Bukan, bukan saya mengajarkan dandan heboh buat tepe2 atau sejenisnya. Tapi saya cuma menyarankan agar kita bisa berpenampilan rapi. Rapi&Indah tidak sama dengan berpenampilan heboh kayak orang mau tepe2 atau pamer atau berlebihan atau over gahol. Cukup berpenampilan sederhana, syar’i, serasi, bersih, rapi, dan menyejukkan jika dipandang….
Menurut saya itu justru akan membuat imej Islam yang cinta keindahan lebih diterima oleh masyarakat…
Yuk, jadi muslimah yang MODIS tapi tetep syar’i, indah, dan mencintai keindahan…seperti yang diajarkan Pencipta kita yang Super Keren
* ditulis oleh SyuAb & Abida Syakira
Oct 21st
Di suatu ketika salah satu malaikat mengabarkan ada suatu tempat yang terlampau parah,
” Ya Allah, kutemukan suatu tempat yang penuh maksiat di dalamnya. Zina, khamar, judi semua berkumpul di tempat ini. Kerusakan ini harus dihilangkan Ya Allah. “
Allah swt. pun memerintahkan agar malaikat-malaikat yang lain turun ke tempat tersebut untuh meluluh lantakan tempat tersebut. Tetapi, sebelum para malaikat tersebut turun, ada satu malaikat lain yang protes.
“Ya Allah, sekiranya menurut hamba, janganlah Engkau luluh lantakan tempat tersebut Ya Allah. Bukankah di sana ada seorang hambamu yang senantiasa bertasbih, memuji engkau, sujud di antara sepertiga malam-Mu mendekatkan diri pada Rabb-Nya?”
“Baiklah kalau begitu, wahai para malaikat, janganlah kalian musnahkan desa tersebut dahulu, Musnahkanlah orang tersebut terlebih dahulu!!”
Sontak semua malaikat bingung dan mempertanyakan hal tersebut. “kenapa?”
“KARENA MANUSIA INI HANYA TERUS MENSUCIKAN DIRINYA SENDIRI , TIDAK DENGAN LINGKUNGAN SEKITARNYA!”
———–
nb : menggunakan bahasa redaksional. Sumber coba dicari tapi belum ditemukan.
Oct 21st
Setiap orang pasti telah mengetahui perkataan ini.
“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.”
Inilah yang dianggap oleh sebagian orang sebagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun perlu diingat bahwa setiap buah yang akan dipanen tidak semua bisa dimakan, ada yang sudah matang dan keadaannya baik, namun ada pula buah yang dalam keadaan busuk.
Begitu pula halnya dengan hadits. Tidak semua perkataan yang disebut hadits bisa kita katakan bahwa itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi yang meriwayatkan hadits tersebut ada yang lemah hafalannya, sering keliru, bahkan mungkin sering berdusta sehingga membuat hadits tersebut tertolak atau tidak bisa digunakan. Itulah yang akan kita kaji pada kesempatan kali ini yaitu meneliti keabsahan hadits di atas sebagaimana penjelasan para ulama pakar hadits. Penjelasan yang akan kami nukil pada posting kali ini adalah penjelasan dari ulama besar Saudi Arabia dan termasuk pakar hadits, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Beliaurahimahullah pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Semoga Allah memberi kemudahan dalam hal ini.
Penjelasan Derajat Hadits
Mayoritas ulama pakar hadits menilai bahwa hadits ini adalah hadits dho’if (lemah) dilihat dari banyak jalan.
Syaikh Isma’il bin Muhammad Al ‘Ajlawaniy rahimahullah telah membahas panjang lebar mengenai derajat hadits ini dalam kitabnya ‘Mengungkap kesamaran dan menghilangkan kerancuan terhadap hadits-hadits yang sudah terkenal dan dikatakan sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam‘ pada index huruf hamzah dan tho’. Dalam kitab beliau tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Khotib Al Baghdadi, Ibnu ‘Abdil Barr, Ad Dailamiy dan selainnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau menegaskan lemahnya (dho’ifnya) riwayat ini. Dinukil pula dari Ibnu Hibban –pemilik kitab Shohih-, beliau menyebutkan tentang batilnya hadits ini. Sebagaimana pula hal ini dinukil dari Ibnul Jauziy, beliau memasukkan hadits ini dalam Mawdhu’at (kumpulan hadits palsu).
Dinukil dari Al Mizziy bahwa hadits ini memiliki banyak jalan, sehingga bisa naik ke derajat hasan.
Adz Dzahabiy mengumpulkan riwayat hadits ini dari banyak jalan. Beliau mengatakan bahwa sebagian riwayat hadits ini ada yang lemah (wahiyah) dan sebagian lagi dinilai baik (sholih).
Dengan demikian semakin jelaslah bagi para penuntut ilmu mengenai status hadits ini. Mayoritas ulama menilai hadits ini sebagai hadits dho’if (lemah). Ibnu Hibban menilai hadits ini adalah hadits yang bathil. Sedangkan Ibnul Jauziy menilai bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu).
Adapun perkataan Al Mizziy yang mengatakan bahwa hadits ini bisa diangkat hingga derajat hasan karena dilihat dari banyak jalan, pendapat ini tidaklah bagus (kurang tepat). Alasannya, karena banyak jalur dari hadits ini dipenuhi oleh orang-orang pendusta, yang dituduh dusta, suka memalsukan hadits dan semacamnya. Sehingga hadits ini tidak mungkin bisa terangkat sampai derajat hasan.
Adapun Al Hafizh Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan bahwa sebagian jalan dari hadits ini ada yang sholih (dinilai baik). Maka kita terlebih dahulu melacak jalur yang dikatakan sholih ini sampai jelas status dari periwayat-periwayat dalam hadits ini. Namun dalam kasus semacam ini, penilaian negatif terhadap hadits ini (jarh) lebih didahulukan daripada penilaian positif (ta’dil) dan penilaian dho’if terhadap hadits lebih harus didahulukan daripada penilaian shohih sampai ada kejelasan shohihnya hadits ini dari sisi sanadnya. Dan syarat hadits dikatakan shohih adalah semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat). Inilah syarat-syarat yang dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab Mustholah Hadits (memahami ilmu hadits).
Seandainya Hadits Ini Shohih
Seandainya hadits ini shohih, maka ini tidak menunjukkan kemuliaan negeri China dan juga tidak menunjukkan kemuliaan masyarakat China. Karena maksud dari ‘Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China’ –seandainya hadits ini shohih- adalah cuma sekedar motivasi untuk menuntut ilmu agama walaupun sangat jauh tempatnya. Karena menuntut ilmu agama sangat urgen sekali. Kebaikan di dunia dan akhirat bisa diperoleh dengan mengilmui agama ini dan mengamalkannya.
Dan tidak dimaksudkan sama sekali dalam hadits ini mengenai keutamaan negeri China. Namun, karena negeri China adalah negeri yang sangat jauh sekali dari negeri Arab sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan dengan negeri tersebut. Tetapi perlu diingat sekali lagi, ini jika hadits tadi adalah hadits yang shohih. Penjelasan ini kami rasa sudah sangat jelas dan gamblang bagi yang betul-betul merenungkannya.
Wallahu waliyyut taufiq.
Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 22/233-234, Asy Syamilah
Keterangan:
Pangukan, Sleman, 13 Muharram 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Oct 19th
DI ANTARA pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialah prioritas ilmu atas amal. Ilmu itu harus didahulukan atasamal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Dalam hadits Mu’adz disebutkan, “ilmu, itu pemimpin, dan amal adalah pengikutnya.”
Oleh sebab itu, Imam Bukhari meletakkan satu bab tentang ilmu dalam Jami’ Shahih-nya, dengan judul “Ilmu itu Mendahului Perkataan dan Perbuatan.” Para pemberi syarah atas buku ini menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksudkan dalam judul itu harus menjadi syarat bagi ke-shahih-an perkataan dan perbuatan seseorang. Kedua hal itu tidak dianggap shahih kecuali dengan ilmu; sehingga ilmu itu didahulukan atas keduanya. Ilmulah yang membenarkan niat dan membetulkan perbuatan yang akan dilakukan. Mereka mengatakan: “Bukhari ingin mengingatkan orang kepada persoalan ini, sehingga mereka tidak salah mengerti dengan pernyataan ‘ilmu itu tidak bermanfaat kecuali disertai dengan amal yang pada gilirannya mereka meremehkan ilmu pengetahuan dan enggan mencarinya.”
Bukhari mengemukakan alasan bagi pernyataannya itu dengan mengemukakan sebagian ayat al-Qur’an dan hadits Nabi saw:
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan…” (Muhammad: 19)
Oleh karena itu, Rasulullah saw pertama-tama memerintahkan umatnya untuk menguasai ilmu tauhid, baru kemudian memohonkan ampunan yang berupa amal perbuatan. Walaupun perintah di dalam ayat itu ditujukan kepada Nabi saw, tetapi ayat ini juga mencakup umatnya.
Dalil yang lainnya ialah ayat berikut ini:
“… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…” (Fathir: 28)
Ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah, dan mendorong manusia kepada amal perbuatan.
Sementara dalil yang berasal dari hadits ialah sabda Rasulullah saw:
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia akan diberi-Nya pemahaman tentang agamanya.”2
Karena bila dia memahami ajaran agamanya, dia akan beramal, dan melakukan amalan itu dengan baik.
Dalil lain yang menunjukkan kebenaran tindakan kita mendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang pertama kali diturunkan ialah “Bacalah.” Dan membaca ialah kunci ilmu pengetahuan; dan setelah itu baru diturunkan ayat yang berkaitan dengan kerja; sebagai berikut:
“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah.” (al-Muddatstsir: 1-4)
Sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan, karena ilmu pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat manusia; antara yang benar dan yang salah di dalam perkataan mereka;antara perbuatan-perbuatan yang disunatkan dan yang bid’ah dalam ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalam melakukan muamalah; antara tindakan yang halal dan tindakan yang haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak manusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang ditolak; antara perbuatan dan perkataan yang bisa diterima dan yang tidak dapat diterima.
Oleh sebab itu, kita seringkali menemukan ulama pendahulu kita yang memulai karangan mereka dengan bab tentang ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali ketika menulis buku Ihya’ ‘Ulum al-Din; dan Minhaj al-’Abidin. Begitu pula yang dilakukan oleh al-Hafizh al-Mundziri dengan bukunya at-Targhib wat-Tarhib. Setelah dia menyebutkan hadits-hadits tentang niat, keikhlasan, mengikuti petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi saw; baru dia menulis bab tentang ilmu pengetahuan.
Fiqh prioritas yang sedang kita perbincangkan ini dasar dan porosnya ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan. Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan yang tidak karuan.
Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh khalifah Umar bin Abd al-Aziz, “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”3
Keadaan seperti ini tampak dengan jelas pada sebagian kelompok kaum Muslimin, yang tidak kurang kadar ketaqwaan, keikhlasan, dan semangatnya; tetapi mereka tidak mempunyai ilmu pengetahuan, pemahaman terhadap tujuan ajaran agama, dan hakikat agama itu sendiri.
Seperti itulah sifat kaum Khawarij yang memerangi Ali bin Abu Thalib r.a. yang banyak memiliki keutamaan dan sumbangan kepada Islam, serta memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan Rasulullah saw dari segi nasab, sekaligus menantu beliau yang sangat dicintai oleh beliau. Kaum Khawarij menghalalkan darahnya dan darah kaum Muslimin yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT.
Mereka, kaum Khawarij ini, merupakan kelanjutan dari orang-orang yang pernah menentang pembagian harta yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw, yang berkata kepada beliau dengan kasar dan penuh kebodohan: “Berbuat adillah engkau ini!” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau! Siapa lagi yang adil, apabila aku tidak bertindak adil. Kalau aku tidak adil, maka engkau akan sia-sia dan merugi. ”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Sesungguhnya perkataan kasar yang disampaikan kepada Rasulullah saw ialah ‘Wahai Rasulullah, bertaqwalah engkau kepada Allah.” Maka Rasulullah saw menyergah ucapan itu sambil berkat, “Bukankah aku penghuni bumi yang paling bertaqwa kepada Allah?”
Orang yang mengucapkan perkataan itu sama sekali tidak memahami siasat Rasulullah saw untuk menundukkan hati orang-orang yang baru masuk Islam, dan pengambilan berbagai kemaslahatan besar bagi umatnya, sebagaimana yang telahdisyari’ahkan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya. Rasulullah saw diberi hak untuk melakukan tindakan terhadap shadaqah yang diberikan oleh kaum Muslimin. Lalu bagaimana halnya dengan harta pampasan perang?
Ketika sebagian sahabat memohon izin kepada Rasulullah saw untuk membunuh para pembangkang itu, beliau yang mulia melarangnya; kemudian memperingatkan mereka tentang munculnya kelompok orang seperti itu dengan bersabda:
“Kalian akan meremehkan (kuantitas) shalat kalian dibandinglan dengan shalat yang mereka lakukan, meremehkan (kuantitas ) puasa kalian dibandingkan dengan puasa yang mereka lakukan; dan kalian akan meremehkan (kuantitas) amal kalian dibandingkan dengan amal mereka. Mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak lebih dari kerongkongan mereka. Mereka menyimpang dari agama (ad-Din) bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.”
Makna ungkapan “fidak lebih dari kerongkongan mereka” ialah bahwa hati mereka tidak memahami apa yang mereka baca, dan akal mereka tidak diterangi dengan bacaan ayat-ayat itu. Mereka sama sekali tidak memanfaatkan apa yang mereka baca itu, walaupun mereka banyak mendirikan shalat dan melakukan puasa.
Di antara sifat yang ditunjukkan oleh Nabi tentang kelompok itu ialah bahwa,
“Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala.”4
Kesalahan fatal yang dilakukan oleh mereka bukanlah terletak pada perasaan dan niat mereka, tetapi lebih berada pada akal pikiran dan pemahaman mereka. Oleh karena itu, mereka dikatakan dalam hadits yang lain sebagai:
“Orang-orang muda yang memilih impian yang bodoh.” 5
Mereka baru diberi sedikit ilmu pengetahuan, dengan pemahaman yang tidak sempurna, tetapi mereka tidak mau memanfaatkan kitab Allah padahal mereka membacanya dengan sangat baik, tetapi bacaan yang tidak disertai dengan pemahaman. Mungkin mereka memahaminya dengan cara yang tidak benar, sehingga bertentangan dengan maksud ayat yang diturunkan oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, Imam Hasan al-Bashri memperingatkan orang yang tekun beribadah dan beramal, tetapi tidak membentenginya dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman. Dia mengucapkan perkataan yang sangat dalam artinya,
“Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu, bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang engkau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu.”6
ILMU MERUPAKAN SYARAT BAGI PROFESI KEPEMIMPINAN (POLITIK, MILITER, DAN KEHAKIMAN)
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan syarat bagi semua profesi kepemimpinan, baik dalam bidang politik maupun administrasi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Yusuf as ketika berkata kepada Raja Mesir:
” … sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 54-55)
Yusuf as menunjukkan keahliannya dalam pekerjaan besar yang ditawarkan kepadanya, yang mencakup pengurusan keuangan, ekonomi, perancangan, pertanian, dan logistik pada waktu itu. Yang terkandung di dalam keahlian itu ada dua hal; yakni penjagaan (yang lebih tepat dikatakan “kejujuran”) dan ilmu pengetahuan (yang dimaksudkan di sini ialah pengalaman dan kemampuan). Kenyataan itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang anak perempuan Nabi besar dalam surah al-Qashash:
“… karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (al-Qashash: 26)
Ia juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam dunia militer; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT ketika memberikan alasan bagi pemilihan Thalut sebagai raja atas bani Israil:
“… Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu pengetahuan yang luas dan tubuh yang perkasa…” (al-Baqarah, 247)
Pedoman itu juga sepatutnya diberlakukan dalam dunia kehakiman, sehingga orang-orang yang hendak diangkat menjadi hakim diharuskan memenuhi syarat seperti syarat yang diberlakukan bagi orang yang hendak menjadi khalifah. Untuk menjadi hakim itu tidak cukup hanya dengan menyandang sebagai ulama yang bertaqlid kepada ulama lainnya. Karena pada dasarnya, ilmu pengetahuan merupakan kebenaran itu sendiri dengan berbagai dalilnya, dan bukan ilmu pengetahuan yang diberitahukan oleh Zaid atau Amr. Orang-orang yang bertaqlid kepada manusia yang lainnya tanpa ada alasan yang membenarkan tindakannya, atau ada alasannya tetapi sangat lemah, maka orang itu dianggap tidak mempunyai ilmu pengetahuan.
Keputusan hukum yang diterima dari orang yang melakukan taqlid, adalah sama dengan kekuasaan yang dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan, yang sangat penting. Akan tetapi ada batasan-batasan tertentu dan minimal bagi ilmu pengetahuan yang mesti dikuasai oleh hakim itu. Jika tidak, maka dia akan membuat keputusan hukum berdasarkan kebodohan dan akan menjadikannya sebagai penghuni neraka.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah dari Rasulullah saw bersabda,
“Ada tiga golongan hakim. Dua golongan berada di neraka, dan satu golongan lagi berada di surga. Yaitu seorang yang mengetahui kebenaran kemudian dia membuat keputusan hukum dengan kebenaran itu, maka dia berada di surga. Seorang yang memberikan keputusan hukum yang didasarkan atas kebodohannya, maka dia berada dineraka. Kemudian seorang yang mengetahui kebenaran tetapi dia melakukan kezaliman dalam membuat keputusan hukum, maka dia berada di neraka.”7
PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI MUFTI (PEMBERI FATWA)
Persoalan yang serupa dengan kehakiman ialah pemberian fatwa. Seseorang tidak boleh memberikan fatwa kepada manusia kecuali dia seorang yang betul-betul ahli dalam bidangnya, dan memahami ajaran agamanya. Jika tidak, maka dia akan mengharamkan yang halal dan menghalalkan hal-hal yang haram; menggugurkan kewajiban, mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, menetapkan hal-hal yang bid’ah dan membid’ahkan hal-hal yang disyariahkan; mengkafirkan orang-orang yang beriman dan membenarkan orang-orang kafir. Semua persoalan itu, atau sebagiannya, terjadi karena ketiadaan ilmu dan fiqh. Apalagi bila hal itu disertai dengan keberanian yang sangat berlebihan dalam memberikan fatwa, serta melanggar larangan bagi siapa yang mau melakukannya. Hal ini dapat kita lihat pada zaman kita sekarang ini, di mana urusan agama telah menjadi barang santapan yang empuk bagi siapa saja yang mau menyantapnya; asal memiliki kemahiran dalam berpidato, keterampilan menulis; padahal al-Qur’an, sunnah Nabi saw, dan generasi terdahulu umat ini sangat berhati-hati dalam menjaga hal ini. Tidak ada orang yang berani melakukan hal itu kecuali orang-orang yang benar-benar mempunyai keahlian di dalam bidangnya, serta memenuhi syarat untuk persoalan tersebut. Betapa sulit sebenarnya untuk memenuhi syarat-syarat itu.
Sebenarnya Nabi saw sangat tidak suka kepada orang yang tergesa-gesa memberikan fatwa pada zamannya. Ada sebagian orang yang memberikan fatwa kepada salah seorang di antara mereka yang terluka ketika mereka berjinabat untuk mandi, tanpa mempedulikan luka yang dideritanya. Sehingga hal itu menyebabkan kematiannya. Maka Rasulullah saw bersabda,
“Karena mereka telah membunuhnya, maka semoga Allah akan membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak tahu. Sebenarnya kalau mereka mau bertanya, maka orang itu bisa sembuh. Sebenarnya bagi orang seperti itu hanya cukup bertayammum saja…” 8
Lihatlah bagaimana Rasulullah saw menganggap bahwa fatwa yang diberikan oleh mereka sama dengan pembunuhan terhadap orang tersebut, sehingga beliau mendoakan mereka, “Semoga Allah juga membunuh mereka.” Oleh karena itu, fatwa yang keluar dari kebodohan dapat membunuh jiwa dan membawa kerusakan. Dan pada akhirnya, Ibn al-Qayyim dan ulama yang lainnya sepakat untuk mengharamkan pemberian fatwa dalam urusan agama tanpa disertai dengan ilmu pengetahuan; berdasarkan firman Allah SWT:
“… dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)
Banyak sekali hadits, qaul sahabat, dan generasi terdahulu umat ini yang melarang pemberian fatwa bagi orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan.
Ibn Sirin berkata, “Seorang lelaki yang mati dalam keadaan bodoh itu lebih baik daripada dia mati dalam keadaan berkata tentang sesuatu yang dia tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentang itu.”
Abu Hushain al-Asy’ari berkata, “Sesungguhnya salah seorang di antara mereka ada yang memberi fatwa dalam suatu masalah. Jika hal ini berlaku pada zaman Umar, maka dia akan mengumpulkan para pejuang Perang Badar.”
Lalu, bagaimana bila Umar melihat keberanian orang pada zaman
kita sekarang ini?
Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Abbas berkata, “Barangsiapa memberi fatwa kepada orang ramai tentang apa saja yang mereka tanyakan kepadanya, maka dia termasuk orang gila.”
Abu Bakar berkata, “kangit mana yang melindungi diriku dan bumi mana yang akan menjadi tempat pijakanku, kalau aku mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui.”
Ali berkata, “Hatiku menjadi sangat tenang –dia mengucapkannya sebanyak tiga kali– bila ada seorang lelaki yang ditanya tentang sesuatu yang dia ketahui, tetapi dia tetap mengatakan, ‘Allah yang Maha Tahu.’”
Ibn al-Musayyab, tokoh senior tabi’in, apabila dia hendak memberikan fatwa dia berkata, “Ya Allah, selamatkan aku, dan benarkan apa yang keluar dari diriku.”
Semua ini menunjukkan bahwa kita perlu sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. Selain itu, fatwa harus diberikan oleh orang-orang yang betul-betul memiliki ilmu pengetahuan, wawasan yang luas, wara’, yang menjaga diri dari setiap kemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsunya sendiri atau hawa nafsu orang lain.
Atas dasar uraian tersebut, sangatlah mengherankan bila para pelajar ilmu syariah –kebanyakan pelajar yang baru masuk pada fakultas ini– tergesa gesa memberikan fatwa dalam berbagai persoalan yang sangat pelik, problema yang sangat penting, mendahului para ulama besar, dan bahkan berani menentang para imam mazhab besar, para sahabat yang mulia, dengan menyombongkan diri seraya mengatakan, “Mereka orang lelaki, dan kamipun orang lelaki.”
Pertama-tama yang diperlukan oleh seseorang yang hendak memberikan fatwa ialah mengukur kemampuan dirinya sendiri, kemudian memahami berbagai tujuan syari’ah, memahami hakikat dan kenyataan hidup. Akan tetapi,sangat disayangkan bahwa mereka tertutup oleh penghalang yang sangat besar, yaitu ketertipuan dengan diri mereka sendiri. Sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT.
PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI DA’I DAN GURU (MUROBI)
Jika ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh orang yang bergelut dalam dunia kehakiman dan fatwa, maka dia juga diperlukan oleh dunia da’wah dan pendidikan. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Yusuf: 108)
Setiap juru da’wah –dari pengikut Nabi saw– harus melandasi da’wahnya dengan hujjah yang nyata. Artinya, da’wah yang dilakukan olehnya mesti jelas, berdasarkan kepada hujjah-hujjah yang jelas pula. Dia harus mengetahui akan dibawa ke mana orang yang dida’wahi olehnya? Siapa yang dia ajak? Dan bagaimana cara dia berda’wah?
Oleh karena itu, mereka berkata tentang orang rabbani: yaitu orang yang berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya; sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT:
“… akan tetapi (dia) berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya.” (Ali ‘Imran: 79)
Ibn Abbas memberikan penafsiran atas kata “rabbani” sebagai para ahli hikmah sekaligus fuqaha.9
Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan rabbani ialah orang yang mengajar manusia dengan ilmu kecilnya sebelum ilmu itu menjadi besar.
Yang dimaksud dengan ilmu kecil ialah ilmu yang sederhana dan persoalannya jelas. Sedangkan ilmu besar ialah ilmu yang pelik-pelik. Ada pula yang mengatakan bahwa rabbani ialah orang yang mengajarkan ilmu-ilmu yang parsial sebelum ilmu-ilmu yang universal, atau ilmu-ilmu cabang sebelum ilmu-ilmu yang pokok, ilmu-ilmu pengantar sebelum ilmu-ilmu yang inti.10
Yang dimaksudkan dengan pernyataan itu ialah bahwa pengajaran itu dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kondisi dan kemampuan orang yang diajarnya, sehingga dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit.
Persoalan yang perlu diperhatikan oleh orang yang bergerak dalam bidang da’wah dan pendidikan ialah bahwa juru da’wah dan pendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah dan bukan jalan yang susah; memberikan kabar gembira dan tidak menakut-nakuti mereka; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang disepakati ke-shahih-annya oleh Bukhari dan Muslim,
“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.”11
Al-Hafizh ketika memberikan penjelasan terhadap hadits ini mengatakan,
“Yang dimaksudkan dengan hal ini ialah menarik simpati hati orang yang hampir dekat dengan Islam, dan tidak melakukan da’wah dengan cara yang keras dan kasar pada awal mula kegiatan da’wah itu. Begitu pula hendaknya kecaman terhadap orang yang suka melakukan kemaksiatan. Kecaman itu hendaknya dilakukan secara bertahap. Karena sesungguhnya sesuatu yang pada tahap awalnya dapat dilakukan dengan mudah, maka orang akan bertambah senang untuk memasukinya dengan hati yang lapang. Pada akhirnya, dia akan bertambah baik sedikit demi sedikit. Berbeda dengan cara berda’wah yang dilakukan dengan keras dan kasar.” 12
Yang dimaksudkan dengan perkataan ,mempermudah, di situ bukanlah terbatas pada orang-orang yang hampir dekat hatinya dengan Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafizh, tetapi ia berlaku lebih umum dan permanen. Misalnya mempermudah jalan bagi orang yang hendak melakukan taubat, atau kepada setiap orang yang memerlukan keringanan; seperti orang yang sakit atau sudah tua usianya, atau orang yang berada di dalam keadaan yang mendesak.
Di antara keharusan yang berlaku di dalam ilmu pengetahuan ialah upaya untuk mencari ilmu-ilmu agama sejauh kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, sesuai dengan kadar kemampuan otaknya untuk menerima ilmu pengetahuan tersebut. Dia tidak boleh mengucapkan sesuatu yang tidak cocok dengan akal pikirannya, sehingga hal itu malah berbalik menjadi fitnah bagi dirinya dan juga kepada orang lain. Sehubungan dengan hal ini Ali r.a. berkata, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Tinggalkan apa yang tidak cocok dengan akal pikiran mereka. Apakah engkau menghendaki mereka mengatakan sesuatu yang bohong terhadap Allah dan rasul-Nya?” 13
Ibn Mas’ud r.a. berkata, “Engkau tidak layak menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kadar kemampuan otak mereka. Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah pada sebagian orang itu.”14.
1 Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Barr dan lainnya dari Mu’adz, sebagai hadits marfu’ dan mauquf, tetapi hadits ini lebih benar digolongkan kepada hadits mauquf. ^
2 Baca, Shahih al-Bukhari dan Fath al-Bari, 1:158-162, cet. Dar al-Fikr yang disalin dari naskah lama.^
3 Baca Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadhlih, karangan Ibn ‘Abd al-Barr, 1:27, cet. Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah^
4 Lihatlah sifat-sifat mereka dalam buku al-Lu’lu’ wa al-Marjan fima Ittafaqa ‘alaih al-Syaikhani, khususnya hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Jabir, Abu Sa’id, Ali, dan Sahal bin Hunaif (638-644).^
5 Hadits Ali, Ibid.^
6 Ucapan ini dikutip oleh Ibn Hazm dalam bukunya, Miftah Dar al-Sa’adah, h. 82^
7 Diriwayatkan oleh para penulis Sunan Arba’ah dan al-Hakim; sebagai mana diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu Ya’la, dan Baihaqi dari Ibn Umar; seperti yang dimuat di dalam al-Jami’ as-Shaghir. (4446) dan (4447).^
8 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir, dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Ibn ‘Abbas. Lihat Shahih al-Jami’ as-Shaghir (4362) dan (4363).^
9 Hal ini disebutkan oleh Bukhari ketika memberikan komentar pada bab “Ilmu” dalam Shahih-nya. Al-Hafizh berkata dalam Fath-nya, “Hadits ini sampai Ibn Abi ‘Ashim dengan isnad hasan. Dan juga diriwayatkan oleh al-Khathib dengan isnad hasan yang berbeda.” 1: 161^
10 al-Fath, 1: 162`^
11 Diriwayatkan oleh al-Syaikhani dari Anas, sebagaimana disebutkan di dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan^
12 al-Fath, 1: 163^
13 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-’Ilm, secara mauquf atas Ali r.a. (Lihar al-Fath. 1 225)^
14 Diriwayatkan oleh Muslim dalam mukadimah as-Shahih secara mauquf atas Ibn Mas’ud. Ibid.^
*dari buku FIQH PRIORITAS Dr. Yusuh Al-Qardhawi
gambar hasil gugling